Bahkan ketika tahun berganti kesekian kalinya, topik tulisanku masih selalu kamu.
Selasa, 31 Desember 2024
Senin, 16 Desember 2024
Monolog#39
Seseorang mendoakanku semoga dengan menulis, aku menemukan apa yang aku inginkan. Tapi keinginanku yang berharap kamu membaca tulisanku sepertinya tidak akan tercapai. Sebab kulihat kamu tidak lagi menunggu tulisan-tulisanku.
Rabu, 13 November 2024
Minggu, 10 November 2024
Monolog#36
Kata mereka, kalau masih cinta yah dikejar. Tapi aku sudah cukup dengan melihatmu dari jarak yang paling jauh. Setidak berani itu. Barangkali juga sudah ada yang bersemi di hatimu dan jika itu bukan aku, semoga ia tidak layu.
Minggu, 29 September 2024
Monolog#35
Sudut pandangnya begitu luas, pun hidupnya terus berputar. Tidak sepicik sudut pandangku yang hanya berputar di satu nama dan masih terjebak di masa lalu.
Jumat, 27 September 2024
Sebuah Cerpen: Stasiun Tiga
"Sepasang sandal yang terlihat berjarak di atas pasir putih mengingatkanku pada kisah dua manusia yang sama-sama berada di tempat ternyaman mereka namun seperti ada jarak yang tak kasat mata, terbentang di tengahnya. Sepasang yang tidak benar-benar bersama." Tulis Tari pada aplikasi note di handphonenya. Begitulah dirinya, inspirasi tulisannya selalu didapatkan dari hal-hal sederhana.
Seakan menceritakan kisah orang lain, Tari lagi-lagi mengotak-atik kisah hidupnya sendiri pada tulisannya. Orang yang mengenal Tari atau pembaca tulisan-tulisannya pasti sudah sangat paham Tari yang denial dalam kalimat-kalimatnya sendiri di tiap tulisannya. Tari senang pada menulis namun ia tidak ingin mengasihani diri sendiri. Mungkin itu alibi yang tepat dari setiap tulisannya. Sudah cukup dirinya terlihat menyedihkan di dunia nyata karena terus menerima kejadian-kejadian yang menghancurkan hari-harinya, menghancurkan rasa percayanya kepada makhluk bernama manusia, dan membuatnya menjadi seorang gadis yang lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan atau di dalam kamarnya yang sunyi, sesekali saja mengunjungi kantor penerbit yang membantu melahirkan karyanya atau menghadiri rapat dengan editornya.
Usianya yang beranjak 25 membuatnya lebih fokus memikirkan dirinya. Namun hampir 3 tahun Tari merasa terkurung di dunia yang luas. Ia seusaha mungkin menjauhkan diri dari orang baru yang ingin masuk ke hidupnya. Cukup bagi Tari ada Ibu di dunianya, juga menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai penulis sudah cukup membuatnya tetap hidup. Sahabat? dia pernah punya satu tapi sudah dihapusnya dari list 'Alasan Bahagia'. Pacar? pernah sekali, tapi berhasil mematahkan hatinya sepatah-patahnya karena alasan Tari dianggap kurang waktu untuk kekasihnya sehingga diam-diam kekasihnya mencari tempat nyaman yang lain. Lantas buat apa menyimpan benda tajam yang membuat luka? Pikir Tari waktu itu dan sebagian karyanya lahir dari patah hati terberatnya.
Perlahan hidup Tari mulai membaik. Ia melanjutkan kebiasaannya menuliskan setiap gaduh kepala dan kacau dirinya. Entah sampai kapan ia cukup dengan dirinya sendiri seperti itu tapi sampai hari ini dirinyalah satu-satunya yang mengerti. Bandung dan Pantai; tujuan Tari setelah merasa butuh angin segar meski dengan penuh rasa takut menghadapi dunia, ia berhasil melawan dirinya sendiri.
"(19 Agustus 2023) Terimakasih sudah berhasil melawan diri sendiri. Terimakasih sudah berani pergi liburan jauh sendirian." Tulis Tari lagi, yang masih betah duduk di pasir putih di sebuah pantai di daerah Garut. Meskipun lumayan jauh dari Bandung, lelahnya terbayarkan dengan indahnya pantai tersebut. Kali ini ia menulis dalam buku jurnalnya; buku khusus untuk mengebadikan segala pencapaian kecilnya. Akhirnya ia menuntaskan wishlistnya.
Sudah hampir sebulan dirinya kabur ke Bandung. Mungkin kabur lebih pas daripada liburan dan sudah hampir sebulan juga buku itu berada dalam hidupnya. Tari mencoba menulis tiap pencapaian kecil dirinya ke dalam sebuah buku catatan berbentuk mini dan bergambar langit berhias awan itu. Hal kecil tersebut membuat Tari belajar lebih menyayangi dirinya sendiri. Ia berterimakasih karena dipertemukan dengan manusia aneh di stasiun tiga. Ya, buku itu pemberian dari orang asing yang tak sengaja ia temui di dalam kereta rute Jakarta menuju Bandung.
"Kamu bisa memilikinya." Ucap lelaki tinggi dan berambut gondrong dengan penampilan yang sepertinya sedang ingin menaklukkan sebuah gunung? Entah, Tari bodo amat. Lelaki itu tiba-tiba saja memberikan buku kecil yang masih kosong padanya yang saat itu duduk di sebelah lelaki itu dengan hanya diam menatap keluar jendela.
"Untuk saya?" Ucap Tari bingung menunjuk ke dirinya mememastikan sebelum menerima.
"Iya, untukmu saja. Awalnya buku ini mau ku bawa di pendakian nanti buat mengabadikan ceritaku tapi sepertinya kamu lebih butuh. Kulihat seperti ada banyak kata-kata yang ingin bebas dari kepalamu. Mungkin buku kecil ini bisa menampung dan merawatnya dengan baik."
Tari menerima buku itu karena malas berbasa-basi lebih lama. "Saya gatau anda siapa tapi ter-" Belum sempat selesai ia mengucapkan terima kasih, laki-laki yang tingginya sekitar 178 cm itu berdiri dari tempat duduknya. Kereta berhenti di stasiun ketiga; sepertinya menjadi tujuan pemberhentian laki-laki tersebut yang namanya sama sekali bukan menjadi sebuah hal yang Tari penasarankan.
"Sama-sama. Saya turun duluan yah. Jangan lupa bukunya diisi atau mungkin kamu bisa memberi apresiasi kecil pada dirimu dan menuliskannya disitu. Nanti di lain hari, semoga kita ketemu lagi dan wajahmu tidak se-sunyi tadi." Dengan tersenyum, Laki-laki itu beranjak pergi meninggalkan Tari yang masih kebingungan.
"Dunia emang penuh orang aneh!" Ucap Tari dan kembali ke posisi awal dengan pandangannya yang lurus keluar dari balik jendela kereta, menatap laki-laki itu pergi semakin menjauh.
Untungnya, Tari tidak berharap akan sebuah pertemuan selanjutnya dengan laki-laki itu. Untungnya, ia belum sempat saling berkenalan. Untungnya, Tari tidak menyimpan di ingatan apa yang disemogakan laki-laki itu. Untungnya, ia belajar dari masa lalu bahwa tidak semua pertemuan yang baik berakhir bersama. Tidak semua yang singgah itu menetap, mungkin takdirnya hanya sampai di stasiun tiga. Cukup ia mensyukurinya. Sekali lagi, Tari cukup dengan dirinya. Tari kembali ke Jakarta dan melanjutkan hidup tanpa rasa penyesalan lagi.
Rabu, 17 Juli 2024
Monolog#34
Aku iri dengan orang lain karena mereka punya harapan yang keren-keren. Berharap sukses, berharap kaya, berharap rezeki lancar, berharap dunia jadi tempat yang lebih baik, berharap presiden bisa lunasin utang negara, berharap bisa selesai kuliah 4 tahun, berharap mimpinya tercapai. Apa kerennya saya yang tiap mau tidur cuma bisa berharap, "semoga dunia segera berakhir" dan saat bangun tidur, "semoga ini hari terakhir". Sangat cupu but i repeat that hope every day karena hanya itu harapan terkeren yang ku punya.
Minggu, 14 Juli 2024
Monolog#33
Mencoba melupakan adalah salah satu cara untuk mengingat. Semakin keras usaha ku untuk melupakan mu, semakin deras pula ingatan tentang mu hadir menyerang ku, hingga aku lupa bagaimana seharusnya melupakan itu.
Sabtu, 06 Juli 2024
Monolog#32
Hidup dan mati berkawan baik. Hidup diawasi mati namun hidup kadang tidak tau diri dan suka ngajak mati main petak umpet. Tapi mati pemain hebat, kemana pun hidup bersembunyi akan ditemukannya. "Aku dan kamu begitu dekat, janganlah menjauhiku" Kata mati pada hidup. "Ayo main petak umpet lagi", dalih hidup ngajak mati.
Jumat, 21 Juni 2024
Monolog#30
"Hidup harus dipahami dengan melihat ke belakang, tapi harus dijalani dengan melihat ke depan." Sejauh ini, ungkapan Kierkegaard inilah yang sejalan denganku. Proses move on bukan berarti udah gaperlu nengok ke belakang. Tapi, untuk bisa terus berjalan ke depan, kita harus melihat ke belakang bahwa ada banyak hal di masa lalu yang berperan dalam langkah kita. Sebab, apapun yang ada di masa lalu entah itu menyakitkan yang bahkan untuk diingat pun terasa sulit, namun terkadang hal itu lah yang dapat kita jadikan alasan untuk harus terus hidup dan berjalan maju hari ini. Belum move on bukan berarti tidak akan move on atau hidup ngestuck disitu aja. Dengan tetap berjalan dan melihat dunia yang gak sepicik itu, semoga bisa sampai ke tempat-tempat yang indah.
Senin, 10 Juni 2024
Monolog#29
Tidak ada cerita yang benar-benar selesai jika dituliskan. Ceritanya akan tetap hidup meski yang punya cerita sudah saling mematikan.