Rabu, 27 September 2023

Monolog#28

Jika mencintai bisa semenyenangkan ini, maka kubiarkan diriku turut senang bahwa kamu mencintai orang lain.

Senin, 26 Juni 2023

Monolog#27

Meskipun setuju dengan setiap perkataan dari motivator, namun aku tidak mampu mempercayainya. Karena motivasi tiap personal itu beda-beda. Setiap orang punya cara hidupnya. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Sudah ada porsi yang ia tentukan dalam hidupnya. Manusia bergerak berdasarkan kemampuannya. Meskipun seringkali kita memaksakan diri untuk mampu menyamai atau sejajar dengan pencapaian orang lain dan itu sungguh melelahkan. Maka melihat kompas sendiri itu perlu. Artinya, ikuti arah tujumu sendiri. Gambar peta mu sendiri. Jalan ke arah tujuanmu sampai kau temukan apa yang sesungguhnya kamu ingini. Sekali lagi aku tidak percaya motivator, dan aku tidak menakaman tulisan ini sebagai motivasi.

Sabtu, 24 Juni 2023

Monolog#26

Aku tetap menulis meskipun tulisanku tak pernah lagi mendapat pujian darimu. Aku tetap menulis meski alasan aku menulis agar perasaanku sampai padamu bukan lagi alasan yang bisa kugunakan. Aku tetap akan menulismu, karena dengan begitu aku bisa memilikimu tanpa harus bersaing dengan siapapun yang kini di sampingmu.

Selasa, 13 Juni 2023

Monolog#25

Kamu tau sendiri kan dari dulu aku cuma bisa menulismu? Jadi mana bisa aku menulis selainmu.

Senin, 05 Juni 2023

Monolog#24

Orang yang datang ke hidup ku hanya sekedar penasaran. Mungkin yang ia lihat hanya tenangku saja dari luar. Setelah ia masuk dan melihat ada kekacauan besar di dalam diriku, hanya ada dua jawaban. Ia tetap tinggal denganku dan memeluk segalaku yang kacau atau pergi karena aku tidak sesuai ekspektasinya.

Jumat, 12 Mei 2023

Monolog#23

Ku anggap diriku beruntung agar bisa bersyukur. Memiliki dua figur bapak di hidup ku adalah bentuk kasih sayang Allah kepadaku. Yang satu kusebut Papa dan yang satunya lagi kusebut Ayah. Tapi Ayah sudah jauh sekali perginya dan gak akan balik. Semoga Ayah ditempatkan di tempat terbaikNya Allah, kembali muda, berkumpul bersama orang-orang yang salih, semoga Ayah tidak sendirian dan kedinginan. Dan semoga Papa bisa pulang, kita kumpul bareng lagi. 

Kamis, 23 Maret 2023

Monolog#22

Manusia seringkali mengutuk langkahnya yang susah payah telah ia ambil dan ia pilih untuk dijalani; mengutuk langkah kakinya yang ia rasa salah. Seakan salah langkah adalah penyebab dari kegagalannya. Namun, bukankah seseorang yang tersesat seringkali sampai pada tempat-tempat tak terduga dan menakjubkan? Bukankah salah pilih adalah pintu untuk menemukan pilihan yang terbaik kemudian? Maka biarkan sesekali langkahmu salah arah. Biarkan sesekali kakimu melangkah tak tentu arah. Biarkan sesekali dirimu sampai pada yang bukan tujuanmu. Barangkali pada yang salah kau temukan kebenaran, kau temukan dirimu yang sesekali tak apa jika tak sempurna. Sebab ketidaksempurnaanmu itu yang akan membawamu pada kesempurnaan.

Selasa, 14 Maret 2023

Monolog#21

Setiap manusia berpotensi menyakiti ataupun disakiti. Tentu aku tidak senang dengan keduanya. Jika aku merasa disakiti, kurasa itu bermula dari diriku sendiri dan tidak menutup kemungkinan, ada orang yang tersakiti karenaku. Cukup untuk tidak playing victim, manusia tempatnya salah.

Rabu, 22 Februari 2023

Monolog#20

Nyalanya perlahan meredup. Memantik api diusahakannya agar gelap enggan mengambil peran dalam hidupnya. 

Monolog#19

Ada manusia yang butuh sebulan untuk kembali menghidupi hidupnya dan ada manusia yang ternyata satu tahun pun gak cukup untuk ia kembali memberi nyawa pada hidupnya. 

Jumat, 17 Februari 2023

Monolog#18

Terkadang ada mimpi yang memang harus dilepas bukan karena kita sudah tidak menginginkannya melainkan mimpi itu bukan lagi untuk kita.

Monolog#17

Ku namai tubuh luka. Sebab hari-harinya hanya belajar merangkak sembuh dari pilu yang membelukar di tubuhnya. Seseorang berdatangan namun hanya membawa sekantong duka baru kemudian beranjak pergi ketika dukanya telah berhasil ia tancapkan dalam-dalam ke tubuh luka. Berharap pulih namun berakhir salah pilih.

Sabtu, 11 Februari 2023

Monolog#16

Semua rasa ku cerna dengan hati-hati tapi aku lupa bahwa diriku adalah belati. 

Jumat, 10 Februari 2023

Monolog#15

Kadang aku seperti hujan; yang terlalu berani jatuh ke bumi lalu akhirnya mengering dan hilang tersapu angin. Namun kadang juga aku terlalu pengecut dan takut, memilih menjadi genangan yang butuh hari lebih panjang untuk ikhlas pada kering. 

Kamis, 09 Februari 2023

Monolog#14

Banyak cerita yang telah kusimak dan dengar dari manusia-manusia lain. Banyak juga perasaan baru yang kukenal dari mereka. Entah mengapa aku bisa dengan mudah menerima perasaan yang orang bagi ke aku, seakan mereka mempercayakannya kepadaku. Dan aku bersyukur bila diajak berbagi kisah. Itu berarti aku bisa menemani sepi-sepi yang mereka genggam sendirian. Untuk itu, jangan merasa sendirian lagi. Semua punya dukanya masing-masing. Semua punya senangnya masing-masing. Silakan berbagi sepi dengan orang yang masih melihatmu dengan kasih. Pasti ada, akan ada.

Monolog#13

Ditengah aku yang masih sering ngeluh, Tuhan masih berbaik hati menyelinapkan kupu-kupu dalam diriku. Aku masih bisa tersenyum sampai pipiku memerah seperti tomat. Itu mengapa penyesalan akan selalu berdampingan dengan hal-hal baik yang perlu disyukuri. Ada banyak rahasia yang gak pernah manusia bisa menduganya. Entah perihal duka atau bahagia. Cukup mendebarkan untuk menanti setiap kejutan dari Tuhan. Untuk itu, aku ingin tetap hidup dan menanti kejutan-kejutan itu.

Senin, 06 Februari 2023

Monolog#12

Aku perlahan mulai mengerti mengapa aku harus tetap hidup meski belati masih menancap di dada. Karena masih ada satu dua orang yang tak kasat di mataku dengan rela membagi kasih kepadaku yang harus kurasakan keberadaannya.

Monolog#11

Aku mencoba menjadi apapun yang diriku adanya. Sangat tidak menyangka, memang banyak yang melihatku dengan tatapan aneh dan memuakkan untuk kuingat, tapi ada sebagian orang-orang baik yang baginya keberuntungan bisa mengenalku. Aku senang sekaligus takut. Takut mereka berharap aku sama dengan apa yang dipikirannya. Sungguh aku hanyalah aku yang diriku. Jadi, cukup mengenalku sebagaimana aku saat bersamamu, jangan berharap lebih.

Monolog#10

"Kenapa menulis?"

"Biar bisa diingat"

"Diingat sama siapa?"

"Sama siapa saja; yang menyayangi, yang membenci, yang menyakiti, yang merindu, yang melupakan"

"Emang ada?"

"Ya..gatau. Tapi kalau saya mati nanti, tulisan saya tetap hidup. Ada atau engga, saya mau tetap diingat entah oleh satu orang yang gak saya kenal, yang sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan saya. Saya hanya mau diingat. Lewat tulisan saya tidak akan merasa dilupakan"

"Kamu hidup pun sering dilupakan"

"Seringnya manusia kan kalo udah gak ada baru dicari, baru diingat, baru dikenang. Setidaknya dengan menulis, mereka yang hidup masih bisa menemukan saya."

Monolog#9

"Kamu punya harapan?"


"Punya"


"Apa harapan mu?"


"Aku berharap aku bisa punya harapan"


"Jadi kamu belum punya?"


"Itu harapanku. Berharap punya harapan juga harapan, kan?"


"......." 

Minggu, 05 Februari 2023

Monolog#8

Kapan aku bisa punya teman bermain pakai hati, berlari dan sama-sama takut salah satu di antara kita terjatuh. Ketika aku telanjang kaki, ia juga memilih melepas sepatu. Ketika aku berjalan sendiri, ia berlari menyamakan langkahnya. Aku sama sekali sedang tidak berharap namun aku memang suka menghayalkan sesuatu yang asik.

Monolog#7

Sometimes, i hear people say to me "you're weird" because of different tastes, maybe? but i like it because that's what makes me unique and has my own character. I don't have to follow people's tastes now. I'm a stupid dreamer? yes! Daydreaming about something that isn't real is my hobby. At first, i was just looking for a way to get out of the flat, bland, drama-filled world, and i found fantasy worlds to be a place where i could live without being hurt by real people. Because being normal is so boring! Don't be sad anymore.

Monolog#6

Kukira dengan menulis mu; membuang segalamu ke dalam tulisan dapat membuatku terbebas dari rasa rindu. Aku ragu ini sebuah kesalahan atau sebuah cara untuk membantuku hidup. Tapi mengapa rasanya seperti mati. Yang kulakukan hanyalah membuatmu tentangmu tetap utuh.

Monolog#5

Manusia berlarian dalam kepalanya sendiri. Mencari tenang yang tak pernah mencari, mencari bahagia yang tak ingin ditemukan, mencari setumpuk cerita romansa yang tak ingin dibaca, mencari sisa sisa kenang yang memilih tak tergenang, mencari satu nama yang tak terjamah. Hingga tak ada lagi yang mampu ditemukan. Bersembunyi, hilang, mati, besok tak tau lagi.

Monolog#4

Apa yang mereka sebut sebagai merdeka? apakah seorang perempuan membawa tubuhnya ke dunia tanpa rasa takut? apakah berjalan di atas bumi tanpa ragu dengan sejuta mimpi di kepala? apakah para buruh yang pulang kerja dengan senyum bahagia? apakah segerombol pelajar yang tenang-tenang saja tanpa memikirkan biaya?

Monolog#3

Ketika malam mengambil peran, aku menunggu sapa semacam selamat malam atau selamat menangis. Tentu takkan ada yang peduli. Hujan turun lagi selalu saat aku menuang sedih pada bantal tidurku. Lagu Turnover memecah sunyi begitulah tangis pandai bersembunyi

Monolog#2

Aku bahkan masih menunggu kamu kembali meski aku tau waktuku hanya akan sia-sia. Kalaupun nanti pulangmu pada yang bukan aku; kuharap aku juga bisa menemukan jalan pulangku dan tidak lagi menghabiskan hari-hariku menunggumu disini. 

Monolog#1

Aneh rasanya. Aku takut laut karena pernah dibuat tenggelam tapi hatiku tenang ketika memandanginya. Sampai aku menyadari satu hal, bahwa menyukai laut tidak perlu menyelaminya, cukup dengan melihatnya dari tepian saja untuk sebuah bahagia dan rasa aman.