Sabtu, 10 Oktober 2026

Monolog#40

 Hari ini, untuk pertama kalinya setelah setahun berhenti, aku menulis lagi. Banyak sekali yang terjadi dan sulit untuk kutulis seperti dulu-dulu. Hari-hari aku bangun hanya untuk bekerja, ketemu pacar, lalu pulang dan kembali hampa. Aku memasang mode auto pilot di setiap harinya. Aku sakit tapi tidak ada yang mengerti tentang sakit yang aku rasakan. Aku ingin sembuh tapi tidak ada yang tau sembuh seperti apa yang kuinginkan. Aku butuh ditolong tapi tidak ada yang paham pertolongan seperti apa yang kubutuhkan. Jadi aku tetap hidup sebagaimana orang normal pada umumnya. Pekerjaan yang kujalani membuatku belajar dan sampai terlalu mahir terlihat palsu. Cukup terus tersenyum pada costumer dan tertawa bersama teman di tempat kerja untuk terlihat normal. Sesekali tidak kuat dan kebablasan nangis tapi tidak ada juga yang peduli dan abis nangis lanjut ketawa lagi hahaha. Menjadi palsu sehari-hari terlalu membuatku makin jauh dari diriku. Aku menempatkan semua luka dan rasa sakitku jauh di belakang dan menutupnya serapat mungkin. Aku sudah terlalu lama menjadi yang bukan aku. Mentalku sudah sangat hancur dan aku sering menjadi apa yang mereka sebut "gila". Termasuk orang tua ku, pacarku, saudaraku, dan temanku. Yang mereka tau, "aku kadang menjadi gila". Tapi, aku paham bagaimana tidak semua orang memahami masalah kesehatan mental atau sakit mental. Rasanya benar-benar tidak ada tempat untuk diterima. Pacarku hidup sangat berbeda dengan hidupku. Ia di kelilingi teman-teman yang banyak dan rumahnya yang berisi kehangatan oleh keluarganya. Berbanding jauh dengan aku yang temannya satu dua tiga saja itupun sudah tidak lagi bersua karena kami terpisah kota. Orang tuaku yang berpisah sejak aku menginjak usia 17 tahun dan menyaksikan mereka menikah lagi. Saudara-saudaraku yang juga hidup berpencar. Pacarku punya dunianya sendiri yang sangat seru sepertinya, kadang aku iri. Aku lebih sering tinggal diam di kos, scrolling, liatin kucingku tidur, atau sekedar diam saja tanpa mikirin apa-apa. Dia tidak pernah paham soal kesunyian dan kesepian yang tiap hari mencekikku. Dia tiap malam hanya menyuruhku tidur karena besok harus bangun kerja tapi dia tidak pernah tau kenapa aku tidak bisa tidur. Bercerita atau mengeluarkan isi hati padanya adalah pilihan yang salah karena dia hanya menganggap aku yang berlebihan dan berpikiran seperti bocah. Ya, dia selalu menganggapku bocah. Padahal sejak kecil aku sudah terpaksa hidup dengan berpikir dewasa. Pacarku sangat baik dan peduli. Ia kadang seperti seorang ayah yang terlalu peduli pada anaknya. Ia selalu membawakan atau membuatkanku makanan, dan hal romantis lainnya. Hanya saja ia belum mengerti soal apa yang kuhadapi dan kuperangi dalam diriku. Tubuhku pun makin hari makin tidak sehat dan aku hanya terus meminum obat pereda nyeri dengan harapan bisa tidur sebelum pagi datang. Jujur saja, aku benci jika hari harus berganti. Aku bangun dan berangkat kerja tanpa semangat, hanya bekerja agar dapat gaji untuk hidup. Aku tidak pernah bisa membayangkan hidupku 2 tahun kedepan akan seperti apa. Karena esok hari pun aku tidak pernah memintanya. Hanya ingin duniaku berakhir dan tidak ada lagi mata yang bengkak karena hanya bisa menangis di saat semua orang sudah terlelap. Aku hanya berharap, manusia bisa lebih peka kepada manusia lain dan tidak menyepelekan kesehatan mental seseorang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar