Jumat, 17 Februari 2023

Monolog#18

Terkadang ada mimpi yang memang harus dilepas bukan karena kita sudah tidak menginginkannya melainkan mimpi itu bukan lagi untuk kita.

Monolog#17

Ku namai tubuh luka. Sebab hari-harinya hanya belajar merangkak sembuh dari pilu yang membelukar di tubuhnya. Seseorang berdatangan namun hanya membawa sekantong duka baru kemudian beranjak pergi ketika dukanya telah berhasil ia tancapkan dalam-dalam ke tubuh luka. Berharap pulih namun berakhir salah pilih.

Sabtu, 11 Februari 2023

Monolog#16

Semua rasa ku cerna dengan hati-hati tapi aku lupa bahwa diriku adalah belati. 

Jumat, 10 Februari 2023

Monolog#15

Kadang aku seperti hujan; yang terlalu berani jatuh ke bumi lalu akhirnya mengering dan hilang tersapu angin. Namun kadang juga aku terlalu pengecut dan takut, memilih menjadi genangan yang butuh hari lebih panjang untuk ikhlas pada kering. 

Kamis, 09 Februari 2023

Monolog#14

Banyak cerita yang telah kusimak dan dengar dari manusia-manusia lain. Banyak juga perasaan baru yang kukenal dari mereka. Entah mengapa aku bisa dengan mudah menerima perasaan yang orang bagi ke aku, seakan mereka mempercayakannya kepadaku. Dan aku bersyukur bila diajak berbagi kisah. Itu berarti aku bisa menemani sepi-sepi yang mereka genggam sendirian. Untuk itu, jangan merasa sendirian lagi. Semua punya dukanya masing-masing. Semua punya senangnya masing-masing. Silakan berbagi sepi dengan orang yang masih melihatmu dengan kasih. Pasti ada, akan ada.

Monolog#13

Ditengah aku yang masih sering ngeluh, Tuhan masih berbaik hati menyelinapkan kupu-kupu dalam diriku. Aku masih bisa tersenyum sampai pipiku memerah seperti tomat. Itu mengapa penyesalan akan selalu berdampingan dengan hal-hal baik yang perlu disyukuri. Ada banyak rahasia yang gak pernah manusia bisa menduganya. Entah perihal duka atau bahagia. Cukup mendebarkan untuk menanti setiap kejutan dari Tuhan. Untuk itu, aku ingin tetap hidup dan menanti kejutan-kejutan itu.

Senin, 06 Februari 2023

Monolog#12

Aku perlahan mulai mengerti mengapa aku harus tetap hidup meski belati masih menancap di dada. Karena masih ada satu dua orang yang tak kasat di mataku dengan rela membagi kasih kepadaku yang harus kurasakan keberadaannya.

Monolog#11

Aku mencoba menjadi apapun yang diriku adanya. Sangat tidak menyangka, memang banyak yang melihatku dengan tatapan aneh dan memuakkan untuk kuingat, tapi ada sebagian orang-orang baik yang baginya keberuntungan bisa mengenalku. Aku senang sekaligus takut. Takut mereka berharap aku sama dengan apa yang dipikirannya. Sungguh aku hanyalah aku yang diriku. Jadi, cukup mengenalku sebagaimana aku saat bersamamu, jangan berharap lebih.

Monolog#10

"Kenapa menulis?"

"Biar bisa diingat"

"Diingat sama siapa?"

"Sama siapa saja; yang menyayangi, yang membenci, yang menyakiti, yang merindu, yang melupakan"

"Emang ada?"

"Ya..gatau. Tapi kalau saya mati nanti, tulisan saya tetap hidup. Ada atau engga, saya mau tetap diingat entah oleh satu orang yang gak saya kenal, yang sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan saya. Saya hanya mau diingat. Lewat tulisan saya tidak akan merasa dilupakan"

"Kamu hidup pun sering dilupakan"

"Seringnya manusia kan kalo udah gak ada baru dicari, baru diingat, baru dikenang. Setidaknya dengan menulis, mereka yang hidup masih bisa menemukan saya."

Monolog#9

"Kamu punya harapan?"


"Punya"


"Apa harapan mu?"


"Aku berharap aku bisa punya harapan"


"Jadi kamu belum punya?"


"Itu harapanku. Berharap punya harapan juga harapan, kan?"


"......."